Sabtu, Oktober 06, 2007

Profil Ariawan Chandra

Profile

Lahir dengan Nama asli "Fransiskus Ariawan Chandra" pada 6 Oktober 1985 jam 3 pagi, di Jogja, saya biasa disapa dengan panggilan "Chandra" saat ini saya masih berstatus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta angkatan 2003 dan mengambil fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. Karena berbagai alasan, mungkin teman2 menganggap saya tergolong agak malas kuliah. Whatever they say, yang penting saya konsisten pada orang tua akan selesai kuliah tepat waktu. Ya mungkin karena kegiatan di luar kampus juga banyak. Selain kuliah, saya juga aktif di beberapa bidang seperti menulis di media, mengajar gitar elektrik pada salah satu tempat kursus musik, guide, dll.

Saya mengawali pendidikan di TK, SD & SMP St. PIUS Pemalang lanjut ke SMU N 1 Pemalang. Bisa dibilang saya anak yang pendiam pada saat itu. Entah kenapa sejak saya migrasi ke Jogjakarta, saya mengalami perubahan sifat yang signifikan. Saya menyukai dunia cyber karena bisa melakukan berbagai macam hal yang saya sukai di situ. Saya juga suka musik, karena musik adalah bahasa yang universal, kamu bisa dibuat nangis tanpa harus berkata-kata, ngga percaya? dengerin aja instrumental "ritoru no ichi no namida" (main theme-nya 1 litre of tear). Untuk musik, saya menyukai musik yg bisa nyentuh hati saya, apapun jenis alirannya (ngga masuk chart juga ngga apa apa).

Saya orangnya fleksibel. Maksudnya; tergantung kondisi. Kalau pas saya sedang meeting dengan orang-orang golongan atas, saya bisa mengkondisikan diri sedemikian rupa sehingga terjalin "respect" antara saya dengan mereka. Pas saya gabung bareng komunitas musik yang sebagian saya ampu, saya mungkin hanya berkostum cassual + sandal jepit yang biasa saya pakai ke WC (maaf), dengan beragam kata-kata yang tak senonoh keluar dari mulut busuk saya. Sebenarnya saya (dulu) anak yang tempramental parah. Tapi sekarang kalau marah saya berusaha semaksimal mungkin untuk meredam, dengan orang yang menghina saya pun saya ngga akan pernah membalas (karrena saya biasa mencaci-maki orang di tulisan-tulisan saya).

Saya paling senang bersahabat. Ungkapan "boleh punya teman banyak, tapi sahabat cukup 1 saja" tidak berlaku buat saya. Kenapa? Sebagai orang ber-tempramen yang labil, saya merasa kesusahan untuk mengolah masalah-masalah yang saya hadapi. Disitulah Tuhan menurunkan malaikat-malaikatNya melalui sahabat-sahabat saya. Karena merekalah saya bisa hidup sampai sekarang. Kalau bukan karena mereka, mungkin saya sudah bunuh diri seperti orang-orang tolol yang sering saya lihat di berita TV yang menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan bunuh diri. Saya juga orang yang pas-pasan tapi nggak pernah punya pikiran tolol kaya mereka ( tai babi loe!) Lalu kemana orang tua saya? Masih sehat kok, tapi mereka kan di Pemalang, lha saya di Jogja. Jujur saya pernah terlibat tindakan buruk juga, baik di dunia nyata atau dunia cyber, tapi sekarang udah nggak lagi kok. Tobat..

Akhirnya sekian dulu, doain saya biar cepat selesai kuliah! (saya sedang skripsi, he..he..he..). Semoga semua yang ada di blog saya ini bermanfaat buat kalian. Saya sengaja nulis bidang pendidikan dan sosial, biar bisa diambil manfaatnya oleh semua golongan. GBU guys...

 

 

 

Ariawan Chandra

Posted by Chandra at 20:22:17 | Permanent Link | Comments (32) |

Jumat, Oktober 05, 2007

Perjelas soal Sertifikasi

Perjelas soal Sertifikasi
(RUU Guru dan Dosen Tak Jamin Peningkatan Mutu Pembelajaran)

 

Jakarta, Kompas - Rencana kebijakan sertifikasi guru seperti yang tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Guru dan Dosen masih perlu diperjelas. Ini terutama terkait kompetensi yang akan disertifikasi. Di samping itu, sertifikasi jangan dipandang sebagai satu-satunya solusi peningkatan mutu guru. Jika lingkungan kerja guru tetap birokratis, maka sulit bagi guru untuk berkembang.

Dalam RUU Guru dan Dosen, guru wajib memenuhi kualifikasi pendidikan S1 atau minimal D4 dan memiliki sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi yang didapat melalui pendidikan profesi guru (36 satuan kredit semester). Pendidikan profesi berujung kepada uji kompetensi dan pengeluaran sertifikat pendidik. Sertifikasi itu berlaku untuk semua calon guru atau guru.

Iding Sirojudin, guru Fisika di SMA Negeri 78 Jakarta, Kamis (17/11), menyambut baik jika pemerintah dan DPR melalui RUU Guru dan Dosen menginginkan adanya sertifikasi untuk peningkatan mutu guru. Hanya saja, sertifikasi tersebut perlu diperjelas, antara lain terkait aspek apakah yang akan disertifikasi. Sebagai lulusan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta-Red), Iding mengatakan bahwa materi terkait dengan metode pembelajaran, teknologi pendidikan, psikologi massa, dan interaksi dengan murid di dalam kelas telah didapatkannya. Dia berharap, pendidikan profesi yang berujung pada sertifikat pendidik tersebut sesuai kebutuhan guru.

Hal senada diungkapkan Inting Chomsin, guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 19 Jakarta. Dia tak keberatan jika harus menempuh sertifikasi. Namun, dia juga mengingatkan aspek keadilan dalam sertifikasi tersebut, mengingat banyaknya jumlah guru di Tanah Air dan terbatasnya anggaran pemerintah.

Tokoh pendidikan Prof Dr Winarno Surakhmad menghargai keinginan untuk meningkatkan mutu guru. Sertifikasi setidaknya merupakan proses agar daya tawar guru lebih kuat. Namun, tambahnya, sertifikasi guru jangan dipandang sebagai satu-satunya jalan dan belum tentu menjamin peningkatan kualitas guru. Birokrasi hanya memikirkan agar guru dapat disertifikasi dan dipaksa menjadi baik. Tetapi, jika lingkungan kerja guru tidak mendukung penggunaan maksimal kompetensinya, maka sulit diharapkan perubahan, kata Winarno. Sebab, tambahnya, yang terpenting bagaimana membangun mental agar guru menyadari bahwa dia punya peran sangat besar. Terutama dalam memanusiakan manusia. Apakah itu juga dapat disertifikasi? katanya. (INE)

Posted by Chandra at 18:54:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Filosofi Sertifikasi Guru

Filosofi Sertifikasi Guru

M. Abduhzen

Program sertifikasi dan pendidikan profesi guru sejauh ini belum menampakkan filosofi dan orientasi yang jelas. Akibatnya, perdebatan tentang sertifikasi guru dalam jabatan, guru lulusan lembaga pendidikan tenaga kependidikan alias LPTK dan Akta IV seperti tidak menemukan kepastian. Bahkan, pimpinan sejumlah LPTK mengaku pesimistik bahwa sertifikasi menjamin peningkatan kualitas guru (Kompas, 7 Februari 2007). Tanpa arah yang jelas dan tujuan terukur, niscaya kegiatan ini akan sia-sia.

Gagasan utama di balik pendidikan profesi guru adalah peningkatan mutu dan pembaruan pendidikan nasional. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru. Maka, program sertifikasi seharusnya tidak dipandang sekadar legalisasi untuk memperoleh tunjangan profesi, tetapi lebih sebagai upaya meningkatkan kompetensi melalui pendidikan profesi. Kompetensi guru diyakini tidak secara otomatis menjadi baik dengan menaikkan remunerasi saja. Oleh sebab itu, diperlukan upaya mengubah motivasi dan kinerja guru secara terencana, terarah, dan berkesinambungan dalam bentuk pendidikan profesi.

 

Guru sebagai profesi

Pendidikan profesi guru mengasumsikan bahwa model penyiapan tenaga kependidikan yang diandalkan selama ini sudah tidak memadai lagi sehingga memerlukan pembaruan. Program sertifikasi dan pendidikan profesi guru harus secara nyata menunjukkan langkah-langkah kemajuan dalam peran guru sebagai sebuah profesi. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah guru profesional macam apakah yang hendak "dicetak" lewat pendidikan profesi dengan 36-an SKS tersebut? Apakah guru-guru dipersiapkan untuk mengantar murid-murid lulus ujian nasional ataukah mereka dipersiapkan untuk mengembangkan potensi murid menjadi good citizen, dan insan paripurna? Di manakah perbedaan mereka dengan guru-guru yang ada sekarang atau dengan diri mereka sendiri sebelum memasuki "salon" profesionalisme itu?

Ketika persoalan ini tidak cukup terang, maka pendidikan profesi guru patut menimbulkan keraguan dan pesimisme karena tidak menawarkan sesuatu yang baru dan tangible kecuali selembar kertas bernama sertifikat. Pendidikan profesi guru harus mampu menjawab problem spesifik keguruan. Persoalan kronis keguruan kita, seperti dituturkan Beeby (1975), adalah "praktik kelas" yang membosankan. Guru-guru menerangkan pelajaran dengan latar belakang pengetahuan dan keterampilan metodik yang minimal, terbatas pada buku teks yang dimilikinya. Andalan lain mungkin sisa-sisa ingatannya dari apa yang pernah dipelajarinya dulu di sekolah.

Setelah menguraikan sesuatu masalah, mereka menghabiskan bagian terbesar jam pelajarannya untuk mendiktekan atau menuliskan apa yang diajarkannya di papan tulis dan menunggu murid menyalinnya. Catatan itulah yang dipelajari murid dan menjadi bahan ulangan. Sedikit sekali sekolah di Indonesia membantu menumbuhkan potensi seorang murid, dan pengaruh sekolah yang menjemukan serta tak imajinatif itu tetap terasa ketika seseorang menjadi dewasa dan memimpin masyarakatnya.

Pentingnya mempersoalkan penampilan dan kemampuan guru karena merekalah tokoh utama yang mengantar proses pencapaian hierarkis tujuan instruksional ke tujuan pendidikan nasional. Penampilan seorang guru di dalam praktik kelas ditentukan oleh konsep yang dimilikinya tentang pembelajaran. Pilihan metode bukan sekadar persoalan penyesuaian teknis terhadap topik yang akan disampaikan, melainkan berakar pada cara pandang terhadap manusia (anak) dan bagaimana cara mereka berkebudayaan. Apabila seorang guru memandang anak sebagai makhluk "kosong" dan berkembang secara mekanis, maka ia cenderung memilih mengajar dengan pendekatan pedagogis dengan metode menuang air ke dalam botol (banking system). Sebaliknya, jika anak dianggap sebagai ciptaan yang berpotensi dan berkembang dinamis, maka yang dipergunakan pendekatan andragogis dengan model pembelajaran dialogis. Tetapi, di Indonesia, kebanyakan guru tidak memiliki pandangan apa-apa tentang anak sehingga yang terjadi adalah "ritual" pembelajaran tanpa kerangka dan jiwa.

Dewasa ini, metodologi pembelajaran mengalami perkembangan sangat pesat. Kemajuan di dalam psikologi kognitif dan psikologi belajar yang ditopang oleh perkembangan teknologi informasi telah mendorong dipergunakannya konsep- konsep baru dalam model pembelajaran. Misalnya, perubahan konsep mengajar (teaching) menjadi pembelajaran (learning), perluasan definisi kecerdasan dari yang cenderung kognitif ditandai IQ (intelligence quotion) kini berkembang menjadi kecerdasan emosional (emotional quotion/ EQ) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotion/SQ), serta kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Di dalam model pembelajaran pun istilah-istilah baru bermunculan, seperti learning revolution, accelerated learning, quantum learning/teaching. Sayangnya, perkembangan ini belum menyentuh kelas-kelas sekolah kita. Maka, salah satu peran penting pendidikan profesi guru adalah menjembatani kesenjangan ini.

 

Guru yang dinamis

Pendidikan profesi guru harus dirancang berbeda dengan model pembelajaran di Akta IV, S1, dan S2 keguruan. Pendidikan profesi guru bukan menghasilkan saintis pendidikan dan keguruan, melainkan mendidik seseorang siap dan mahir menjalankan profesinya, seperti pendidikan kepaniteraan (coass) dokter yang siap menangani pasien setamat dari pendidikannya.

Sehubungan dengan waktu yang relatif singkat, maka kompetensi pedagogi, profesional, sosial, dan personal seperti tersebut di dalam UU Guru dan Dosen harus diterjemahkan secara obyektif-terukur dan disampaikan secara praktikal. Apabila guru yang ingin dihasilkan adalah guru dinamis yang dapat mengatasi problem klasik praktik kelas, beberapa usulan dapat dipertimbangkan dalam merancang kurikulum pendidikan profesi guru sebagai berikut.

Pertama, pada masa awal pendidikan diperlukan adanya semacam pelatihan penyadaran profesi yang bertujuan membangun paradigma baru dan ideologi pendidikan serta kebanggaan profesi. Pilihan profesi harus diberikan fondasi filosofis yang terhubung dengan eksistensi dan misi hidupnya. Korelasi ini akan melahirkan motivasi dan energi besar bagi guru dalam menjalankan tugasnya.

Kedua, pembelajaran di kelas disusun tidak berdasarkan pada subject matter (mata pelajaran), tetapi disusun per topik sesuai target sasaran yang diinginkan. Ini penting untuk menghindarkan pendekatan "sistematika-akademis" yang cenderung membahas banyak hal yang kurang signifikan.

Ketiga, pendekatan dan metode yang dipergunakan selama masa pendidikan profesi guru hendaknya merepresentasikan pembelajaran efektif dan partisipatif. Selama pendidikan, guru tidak hanya diperkenalkan pada berbagai metode, tapi sebanyak mungkin mengalami keterlibatan dalam penerapannya. Kegagalan dalam mengajarkan pendekatan dan metode-metode seperti ini sering disebabkan penyampaiannya dengan ceramah.

Keempat, pemagangan dan riset tindakan (action research) haruslah menjadi bagian terbesar dan terpenting dari aktivitas pendidikan profesi guru. Aktivitas ini adalah upaya memberikan keterampilan menemukan, menganalisis, dan memecahkan problem-problem praktik kelas.

Semua program sertifikasi dan pendidikan profesi guru harus dibingkai oleh filosofi mutu dan pembaruan pendidikan. Kurikulumnya harus terukur, menawarkan

Posted by Chandra at 18:45:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Apa yang diajarkan Orang Kaya pada Anak-anak Mereka Tentang Uang Yang Tidak Diajarkan Orang Miskin dan Kelas Menengah

Apa yang diajarkan Orang Kaya pada Anak-anak Mereka Tentang Uang

YangTidak Diajarkan Oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah

 

"Alasan utama orang bersusah payah secara financial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tapi tidak belajar apapun mengenai uang. Hasilnya adalah, orang belajar bekerja untuk (mendapatkan) uang...tetapi tidak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka," kata seorang teman bernama Robbert T. Kiyosaki. (Lahir dan besar di Hawaii, generasi keempat keturunan Amerika-Jepang).

Saya pernah membaca bukunya yang berjudul RICH DAD POOR DAD. Pelajaran yang dapat saya sharingkan kepada anda adalah bahwa anda semua telah diberi dua anugerah luar biasa: pikiran anda dan waktu anda. Terserah pada anda untuk melakukan apa yang anda senangi dengan keduanya. Dengan setiap rupiah yang masuk ke tangan anda, dan hanya anda sendiri yang mempunyai kekuatan untuk memutuskan nasib anda. Habiskanlah dengan bodoh, maka anda memilih untuk menjadi miskin. Habiskanlah untuk liabilitas, maka anda bergabung dengan kelas menengah. Investasikanlah dalam pikiran anda dan belajarlah bagaimana mendapatkan aset, dan anda akan memilih kekayaan sebagai tujuan dan masa depan anda. Pilihan itu ada di tangan anda dan hanya milik anda. Setiap hari dengan setiap rupiah, anda memutuskan untuk menjadi kaya, miskin atau kelas menengah.

Yang mau saya sampaikan adalah: apa yang ada di kepala itulah yang menentukan apa yang ada di tangan anda. Uang hanyalah gagasan. Ada referensi yang bagus juga, judulnya Think and Grow Rich. Judul itu bukan "Bekerja keras dan Menjadi Kaya", namun "Belajarlah untuk Membuat Uang Bekerja untuk Anda", saya yakin hidup anda akan lebih mudah dan lebih bahagia. Sekarang janganlah memainkan uang dengan aman, tetapi mainkanlah dengan pandai dan cerdas.

Buat para orang tua sekarang yang mungkin tidak bisa menyuruh putra-putrinya membaca. Saya turut prihatin. Mereka lebih senang menonton TV. Program anak-anak di TV menghalangi minat mereka untuk membaca. Intinya adalah; sekolah tidak mampu menyiapkan mereka menghadapi tantangan dunia yang kian besar. Tapi jangan kuatir, seorang teman bernama Sharon L. Lechter yang sebenarnya mengalami hal serupa dengan anda (hanya saja dia mungkin jauh lebih jenius dari pada anda hehehe). Adalah penemu "talking book" (buku yang berbicara) elektronik yang pertama dan membantu memperluas industri buku elektronik ke pasar internasional yang bernilai jutaan dolar sekarang ini. Dia tetap merupakan pioner dalam mengembangkan teknologi baru. Intinya (lagi) sistem pendidikan kita saat ini tidak mampu mengikuti laju perubahan global dan teknologi di dunia sekarang ini. Kita harus mengajar orang-orang muda kita keterampilan, baik pelajaran sekolah maupun finansial, yang akan mereka butuhkan tidak hanya untukbertahan hidup, tetapi untuk tumbuh dan maju lebih subur dalam dunia yang mereka hadapi.

 

Ariawan Chandra

Posted by Chandra at 18:36:01 | Permanent Link | Comments (0) |

Thank you so much

Ungkapan terimakasih untuk para inspirator saya di:

U S T

Hormat saya pada pace Ambrosius Atu (keep on strugle),

Ag. Heri Purnomo (makasih bro, tanpa kamu, saya akan lulus 20

tahun lagi), Paulus (keep on DJ), Etni (tau kan kalo sebenarnya aku ngga under estimate sama kamu), Elisabeth, Nita, Herdina (my sister), Chandra &

Siswati (Fucking PPL), Erri (pernah jadi tong sampahku juga), Nanang dan angkatan 2003 lainnya; don't forget me!

Yang pernah jadi temen kost saya;

Hansen, Fadly, Feri, Yogi, Nur, iwan Bali, Nanang, Adam, Iwan

WATANABE MUSIC HEROES

beberapa personel yang care; Ivane & Dhany (trainer keyboard yg jadi tong sampahku, hidup emang perjuangan), Ara, Aya, Deri, Jordy (keyboard class // thanks waker'nya), Mas Djaloe, mas Ramdhan trainer drum yang ngajarin aku ngedrum gratis dan nyerita'in gimana rasanya hidup, semua murid2 drum (gokeel). rekan guitar trainer; Yuli & Mikael (nice picking), Beberapa guitar class sayaà Erika, Yuli (sekarang menggantikan posisi saya), Anto & Afdi di bass Extenssion, Bondo, Bandys, Budy (BBB), Pris sukses ya!. Mr. Vai & sir. Yngwie Malmsteen

Ayumi & Tomiko (nice song), Ryoko, Furi, Kai, Akita (Japan), Karren & Ferron (Aussie), Sharron & Lydia (Belgi).

All the teacher and kids at St. PIUS & SMU N 1

Orang-orang yang saya benci;Polantas dan sat pol PP yg sok! (kiss my black ass)

Last but not least: mam, dad, bro, sist, cous, unc & aunt yg udah menyokong kehidupan saya. I will pay then.

Posted by Chandra at 18:08:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Pembelajar Cerdas Tanpa Batas

Ruang lingkup belajar enggak cuma ada di dalam kelas. Seluruh perjalanan hidup kita adalah sebuah proses belajar juga. Yang kita pahami selama ini belajar adalah sekolah, belajar adalah membaca, belajar adalah menghafal, dan belajar adalah meniru. Kita dianggap pintar setelah bisa melakukan semua itu dengan baik. Ranking kelas diidentikkan dengan kecerdasan seorang siswa. Padahal, hidup enggak pernah nanya-nanya soal ranking. Justru mereka yang memahami bagaimana harus hidup yang bakal jadi "juara" dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang ada di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita, yang kita enggak tahu. Kita banyak mempelajari karya orang lain, tapi kita sendiri cenderung lupa bahwa sebenarnya kita juga bisa berkarya. Kita sering takjub dengan kehebatan orang lain, tapi kita lupa bahwa kita bisa lebih hebat dari orang lain. Banyak hal yang kita lupa pelajari dari kehidupan kita sendiri. Padahal, salah satu kunci sukses adalah bagaimana mengenal diri sendiri.

Mengenal diri sendiri enggak sebatas tahu nama dan asal-usul nenek moyang, tapi kita juga perlu melihat kelebihan yang kita miliki dan belajar untuk memanfaatkannya. Dan ini adalah proses panjang. Seorang pembelajar enggak pernah berhenti mencari karena mereka menyimpan segudang pertanyaan, bahkan ketika sudah menemukan jawaban akan muncul pertanyaan baru dari jawaban tersebut, begitu seterusnya.

Banyak orang yang sadar akan bakat dan kelebihannya serta potensinya yang besar, but no action. So potensi itu cuma jadi "berlian dalam tanah", enggak ada manfaatnya dan enggak seorang pun tahu kelebihannya. Ada orang yang "tahu banyak" tapi enggak "paham banyak", ada orang yang "paham banyak" tapi enggak berbuat banyak, dan ada orang yang berbuat banyak hal tapi enggak menyelesaikan banyak hal. Yang perlu kita lakukan adalah mencari, menemukan, memahami, action, dan tuntaskan! Itulah proses pembelajaran.

Cerdas tanpa batas

Mungkin sebagian dari kita beranggapan, pembelajar adalah orang-orang yang memiliki kemampuan IQ (intelligence quotien) melebihi dari kebanyakan orang. Itu enggak sepenuhnya benar. Artinya, kalau kita termasuk orang yang memiliki IQ "jongkok" pun, kita enggak perlu minder. Tenang aja guys, masih banyak cara untuk bangkit!

Menurut Howard Gardner (1983) dalam bukunya, Frames of Mind, kita memiliki kecerdasan kompleks yang disebutnya sebagai multiple intelligences. Gardner juga mengatakan bahwa kesuksesan seseorang enggak cuma ditentukan oleh satu faktor kecerdasan. Ada beberapa jenis kecerdasan yang kita miliki, di antaranya kecerdasan berhitung dan berpikir logis (logika dan matematik), kecerdasan bermusik atau menikmati musik (musikal), kecerdasan dalam menjalin hubungan (interpersonal), kecerdasan memahami diri sendiri, termasuk memanfaatkan potensi-potensi yang kita miliki (intrapersonal), kecerdasan menggambar dan mengenali ruang (visual dan spaial), kecerdasan gerak (kinestetik), dan kecerdasan dalam mengenal keadaan dan kepekaan terhadap alam (natural). Masing-masing kecerdasan itu mewakili berbagai kemampuan kita yang keragamannya enggak bisa dijelaskan.

Enggak cuma itu, teori tentang kecerdasan juga terus berkembang, ada yang disebut dengan EQ (emotional quotient) yang dikembangkan oleh Daniel Goleman. EQ menggambarkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Bahkan, keberadaan EQ ini mulai dianggap penting hingga melebihi IQ.

Ada juga yang disebut dengan SQ (spiritual quotient), dicetuskan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, yaitu soal seberapa besar kesadaran kita tentang nilai-nilai ketuhanan dan alam semesta.

Jadi, kecerdasan kita bisa dibilang "enggak terbatas". Setiap orang punya berbagai macam kecerdasan itu, tapi dengan bobot yang beda-beda. Ada yang lemah di satu sisi, tapi sangat kuat di sisi lain. Sebagai pembelajar yang selalu mencoba memahami apa pun, termasuk diri kita sendiri, tentu kita tahu kelebihan kita di sisi mana. Jadi, kita bisa memanfaatkan kelebihan kita buat merencanakan masa depan.

Yang dibutuhkan seorang pembelajar bukan cuma kemampuan intelektualnya, tapi lebih kepada kemampuan dan kemauannya dalam memanfaatkan serta mengeksplorasi berbagai macam potensi yang dimiliki. Itulah kenapa bisa ada orang yang enggak tamat sekolah atau bahkan enggak pernah sekolah bisa jadi penulis, pengusaha, seniman, penemu, pemrakarsa, serta pemimpin yang sukses. Semua karena mereka itu seorang pembelajar dan memiliki kecerdasan yang enggak dibatasi oleh formalitas pendidikan.

Kecerdasan enggak bisa diukur dengan membandingkan dengan kecerdasan orang lain seperti dalam sistem ranking. Kecerdasan diukur dari diri kita sendiri, seberapa besar potensi yang kita miliki dan seberapa besar out put yang kita hasilkan. Semakin mampu kita memanfaatkan potensi, kita semakin cerdas. Itu juga yang jadi salah satu ciri seorang pembelajar, yaitu "produktif", bukan "konsumtif".

Ariawan Chandra & Riyan Wahyudi

Posted by Chandra at 18:02:03 | Permanent Link | Comments (0) |

How to Study

Guys, kalo loe - loe pada Pengin Sukses belajar???

Nii gue kasih beberapa tips yang lumayan ces..pleng (manjur) buat kalian.

Eits, ini tips bukan sembarang tips ‘bro...

ni hasil call confference via internet bareng ma anak2 salah satu sekolah Elit di Jepang. Nah lo... Jepang ‘men... yaa sallam...

Pokoknya loe kudu simak baek2 ni... okey! Kalo loe bisa nerapin ni semua!

Loe bakal setara dengan anak2 sekolah di Jepang, gokil ngga tu!

 

  1. Seorang anak memberi saran belajar buat kalian, yang dia dapat dari ayahnya. Hari pertama sekolah, kamu ulang kembali pelajaran yang kamu dapat! Jangan nongkrong di mall dulu... abis itu baca singkat dua halaman materi berikutnya sebagai kerangka saja! Begitu pelajaran itu diterangkan guru esoknya, kamu sudah punya gambaran atau dasar, tinggal menambahkan saja yang belum kamu tahu. Jadi begitu pulang sekolah, kamu tinggal mengulang aja. Untuk mencari kesimpulan atau ringkasan.

 

  1. Usahakan selalu konsentrasi penuh sewaktu mendengarkan pelajaran, materi yang kamu dengar bakal mudah "dipanggil lagi" begitu kamu menghapal ulang pelajaran.

(biasanya tampang loe aja yg sok konsen, tapi pikiran loe ngga tau kemana)

  1. Seorang teman yang lain merekomendasikan untuk ngetik ulang catatan pelajaran ke komputer atau bukumu, logikanya kalau kamu mengetik ulang catatanmu, berarti kamu udah membaca ulang pelajaran yang baru kamu dapet di sekolah. Materi yang di ulang tadi bisa tersimpan di memori otak buat jangka waktu lama. Lebih bagus lagi kalau kamu mau membaca atau mempelajari kembali catatan tersebut setelah diketik, susah lupanya. Kalo loe bisa, otak loe ngga kalah dengan prosesor intel core 2 duo ajib... ya sallam........

 

  1. Ada juga yang nyaranin; baca ulang catatan di sekolah tadi, trus buat kesimpulan dengan kata2 kamu sendiri. Bagus lagi kalau hasil kesimpulan kamu ditulis di secarik kertas seukuran kartu nama, kartu2 tersebut efektif untuk dibaca ulang saat waktu senggang. (tapi jangan buat nyontek!)

 

  1. Teman lainnya menyarankan untuk menggunakan buku catatan yang berebeda pada setiap mata pelajaran, intinya jangan mencampur aduk catatan pelajaran satu dengan yang lainnya. Cara ini dinilai lebih teratur untuk digunakan pada waktu akan mengulang pelajaran & mau ujian.

 

  1. Mengulang pelajaran ngga harus selamanya dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu bisa selalu ingat akan materi tersebut. Yakin jek, kamu bakal bisa lebih paham akan materi tersebut.

 

  1. Belajar mendadak menjelang tes sangat tidak efektif. Paling nggak kamu butuh 1 bulan buat mengulang seluruh materi. Materi terlalu banyak sebenarnya nggak masalah, buat aja ringkasan dan kesimpulan materi! misalnya seperti yang ada pada point 4, atau kamu bisa buat poster lalu tempel di dinding kamarmu. (........................................................gokil...)

 

  1. Beberapa temen dari Australia yang tiba2 nyambung ke call conference kami malah nyaranin Kalo misal badan kamu capek, bakal susah buat konsen-nya, ya ngga?! Makanya sediain waktu buat olahraga juga! Ngga perlu lama2 apalagi ngotot2,, nyantai aja asal rutin. Toh kita bukan sedang mengarah untuk menjadi atlit.

 

  1. Belajar sambil ndengerin musik??? Pendapat yang masih simpang siur ya.... Tapi kenapa ngga dicoba aja? kalo kamu bisa, do it!

 

  1. Ngga usah belajar sampai begadang, siang hari sebenarnya malah lebih bagus, soalnya badan masih fit. malam kita tinggal ulang aja yang ringan2. sambil nonton, sambil berduaan, sambil dengerin musik, ngemil, tiduran,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.......zZzz......zz...krog...zzz...krog....zzz...krog...zZzz......zzz...krog...zzz...krog....zzz...krog... muke gile....tidur loe?....

 

 

Ariawan Chandra & Riyan Wahyudi

Posted by Chandra at 17:53:23 | Permanent Link | Comments (0) |