Thursday, September 3, 2009

Kunjungan Ke Melbourne Australia

Friday, 03 October 2008
Tidak seperti biasanya, hari itu Sabtu 12 Agustus 2006, Pastor Frans Doy Pr hadir di sekolah Santo Yoseph Menteng Metropolitan bukan untuk mempersembahkan Perayaan Ekaristi, tapi untuk memberi berkat sekaligus melepas 10 siswa dan 6 staf sekolah Santo Yoseph yang akan berangkat ke Melbourne Australia, dalam rangka realisasi kerjasama Sister School antara Santo Yoseph dan Emmaus College Melbourne Australia. Rombongan yang dipimpin oleh Bapak Yohannes Sugiyono Setiadi menjadi tamu khusus komunitas Emmaus College selama 15 hari (12/8 sd 27/8). 

Dalam pesannya Pastor Frans Doy Pr menyampaikan penghargaannya kepada segenap komunitas sekolah yang telah dapat menjalin hubungan kerjasama dengan sekolah Katolik di Australia. Beliau juga memuji kebangkitan kaum awam dalam mengelola karya khususnya di bidang pendidikan.   

Kerjasama “Sister School” antara Santo Yoseph dengan Emmaus College telah berlangsung sejak 1996, atas rekomendasi Direktorat Sekolah Swasta Depdikbud (kini Depdiknas) RI. Saat itu sejumlah sekolah di Australia, khususnya di Melbourne sedang menyiapkan diri untuk memberikan pelajaran bahasa Indonesia kepada para siswanya. Emmaus College adalah sekolah Katolik besar yang berada di Melbourne. Santo Yoseph telah 3 kali mengirim rombongan ke Emmaus College dan Emmaus College telah sekitar 5 kali mengirim rombongan ke Santo Yoseph. Kedua komunitas saling berbagi informasi tentang perkembangan sekolah masing-masing, bertukar majalah dan media pengembangan pembelajaran, korespondensi antara staf dan siswa kedua sekolah lewat email.  

Sekitar pukul 17.00, dengan pesawat Singapore Airlines, rombongan meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Sebelum tiba di Melbourne, rombongan sempat transit di Singapore. Pagi hari (13/8), rombongan mendarat di bandara Melbourne dan langsung dijemput Principal Emmaus College, Tony Frizza. Dengan bus milik Emmaus College, rombongan dibawa menuju Emmaus College. Tepat pukul 09.00, rombongan siswa masing-masing dijemput oleh orangtua siswa Emmaus College yang rumahnya ditempati oleh siswa Santo Yoseph. Untuk kemandirian dan untuk memberi kesempatan kepada siswa Santo Yoseph menggunakan bahasa Inggris, maka tiap 1 keluarga siswa Emmaus College ketempatan 1 siswa Santo Yoseph. Sedang staf Santo Yoseph menempati apartemen yang telah disediakan oleh pihak Emmaus College. 

Hari-hari pertama, siswa bergabung bersama dengan siswa Emmaus College dalam kelas-kelas belajar. Pengalaman yang bagus untuk anak-anak memperkenalkan Indonesia dengan segala tradisi, budaya dan keseniannya. Selama di Melbourne, siswa kedua sekolah juga mengikuti berbagai program yang telah disiapkan. Beberapa kegiatan yang menarik diantaranya adalah city tour. Sekitar 200 siswa Emmaus College dari kelas VIII mengikuti program acara ini. Termasuk 16 orang dari Santo Yoseph. Dari kampus Emmaus College, mereka berangkat menuju pusat kota Melbourne dengan 6 buah bis. Sesampainya di pusat kota Melbourne, mereka dipecah menjadi 6 kelompok didampingi guru dari Emmaus dan Santo Yoseph. Mereka mengunjungi IMAX dan museum di pusat kota Melbourne. Dengan kapal feri mereka  juga menyusuri sungai Yara. Dari Menara Rialto yang tingginya lebih dari 250 meter, mereka melihat pemandangan kota Melbourne. Tak lupa mereka mengunjungi Victroria Market, semacam pasar tradisonal ala Indonesia.

Hal yang menarik dalam city tour adalah bagaimana para siswa Emmaus College dapat benar-benar menghargai waktu. Dari satu obyek wisata ke obyek wisata lain, tidak ada transportasi. Mereka harus berjalan rata-rata sekitar 3 kilometer untuk mencapai obyek berikutnya. Selama dalam perjalanan, siswa dari kedua sekolah saling mendiskusikan dan memperkenalkan masing-masing budaya, obyek wisata yang dimiliki masing-masing negara.Tepat sesuai waktu yang ditentukan, dari segala penjuru, keenam kelompok telah terlihat dan siap untuk kembali ke kampusnya. 

Saat pementasan kreasi kedua sekolah, siswa Emmaus College menampilkan juara Emmaus College Idol, mirip Indonesia Idol. Dari Santo Yoseph, para siswa menampilkan beberapa tarian daerah dengan pakaian daerahnya masing-masing. Sebelum acara dimulai, tak lupa diperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara. Dalam sambutannya Principal Emmaus College, menyampaikan bahwa kerjasama Sister School antara kedua sekolah diharapkan juga dapat ikut membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik antara kedua bangsa dan negara.  

Secara khusus rombongan dari Santo Yoseph juga diundang pada acara Debutante Ball 2006. Menurut Julie Johanes, guru bahasa Indonesia di sekolah itu, acara ini sebenarnya merupakan acara tradisi di abad ke 18. Remaja yang telah menginjak usia 18, secara simbolik diserahkan ke dalam masyarakat. “Namun kini acara ini hanya untuk fun saja”, kata Julie. Dengan menggunakan baju seperti pengantin serba putih, para gadis turun dari panggung bagian belakang menuju ke panggung bagian depan. Di bagian depan para jejaka dengan jas lengkap menyambut kedatangan para gadis. Setelah mereka berpasangan dan diperkenalkan kepada hadirin yang adalah para orangtua, guru, kepala sekolah dan undangan lainnya, mereka berdansa dan kemudian mengajak para orangtua dan undangan juga ikut berdansa bersama.

Foto lihat di www.picasaweb.google.com/santoyoseph.mentengmetropolitan

Posted by Chandra at 06:51:39 | Permalink | No Comments »

SMA Santo Yosep Jakarta

Sekarang saya mengajar di SMA Santo Yosep Jakarta Timur. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri setelah selama satu tahun saya melatih mental saya di SMA swasta yang lainnya…

Tahun 2009 ini, Sekolah Santo Yoseph Menteng Metropolitan, genap berusia 10 tahun. Pada 19 Maret 2009, seluruh warga komunitas merayakan ungkapan syukur. Ungkapan syukur diwujudkan dengan Misa Kudus. Pada 20 Maret 2009, dilanjutkan dengan Pentas Seni.

Misi SMA Santo Yoseph 

  1. Mengembangkan kemampuan dalam pengembangan nilai-nilai agama
  2. Membentuk kepribadian siswa agar mempunyai prilaku berbudi pekerti.
  3. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Menghasilakn siswa yang mampu berpikir cerdas, logis, kritis dan kreatif.
  5. Memupuk kepedulian siswa dalam menyikapi suatu masalah.
  6. Menyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang bermutu.
  7. Menyiapkan siswa agar mampu bekerja atau terlibat dalam masyarakat.
  8. Melatih siswa agar mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.
  9. Melatih siswa agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
  10. Memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan bakatnya.
  11. Memupuk sifat disiplin.
  12. Memupuk kebiasaan budaya bersih.
  13. Memupuk sifat kemandirian dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya secara bertanggung jawab.

Perjalanan Kerjasama Sister School (St Yoseph  & Emmaus College)

1.       17 Mei 1996, Santo Yoseph menerima surat rekomendasi dari Direktorat Sekolah Swasta Depdikbud RI. Surat berisi rekomendasi bagi Santo Yoseph untuk menjalin kerjasama Sister School dengan Emmaus College.

2.       23-28 September 1996, Mr James Christian Fabris, Principal Emmaus College dan Barbara Angeline Fabris berkunjung ke Jakarta. Bertemu dengan Kepala SMU St Yoseph, Bapak Yohannes Sugiyono Setiadi untuk membahas tentang program kerjasama.

3.       Juli 1998, Principal Emmaus College, Mr Fabris dan staf berkunjung ke Jakarta.

4.       22-28 Oktober 1998, Bapak Yohannes Sugiyono dan beberapa staf berkunjung ke Emmaus College. Melakukan kunjungan balasan, atas undangan Mr Fabris.

5.       13-23 Juli 1999, beberapa staf dan siswa Santo Yoseph berunjung ke Emmaus College.

6.       17-28 September 2000, beberapa staf dan siswa Emmaus College berkunjung ke Indonesia. Bersama staf dan siswa St Yoseph melakukan perjalanan wisata yang diberi nama “Wisata Budaya Sister School 2000”. Kota dan obyek yang dikunjungi adalah Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali.

7.       05-08 Desember 2001 Mr Fabris berkunjung ke St Yoseph. Tujuannya adalah pamitan dan memperkenalkan Principal Emmaus College yang baru, Mr Tony Frizza. Sejak 2001 Principal Emmaus College adalah Mr Tony Frizza.

8.       12-27 Agustus 2006 beberapa staf St Yoseph menjadi tamu Emmaus College. Para siswa tinggal bersama orangtua siswa Emmaus College.

9.       Akhir Maret 2007, staf Emmaus College berkunjung ke Jakarta. Ikut menyaksikan upacara pemberkatan gedung sekolah St Yoseph Jakarta Timur, 23 Maret 2007

Kapan mau ke Melbourne lagi ya??

 

 

Posted by Chandra at 06:50:53 | Permalink | No Comments »

Tuesday, November 11, 2008

Curhat

Rasanya ketika wisuda dulu dari sebuah padepokan Guru di republik tercinta ini, soal kode etik ini selalu didengungkan dalam suasana syahdu, ketika prosesi wisuda yang masih sakral saat itu seorang wisudawan terbaik, membaca kode etik ini didepan senat guru Besar, kami mengikutinya seperti murid saat pembacaan naskah Pancasila. Berikut ini hasil kopi pasti dari sini Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa , Bangsa, dan Negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasar-dasar sebagai berikut :
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. duh kalo dilihat berapa banyak ya dari kita yang berjiwa Pancasila

2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional. jujur dan profesional sampai saat ini masih jadi impian para guru, apa bener kalo udah tersertifikasi itu yang disebut guru profesional ???

3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. yang ini sih pasti

4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar. kenapa ya masih banyak kekerasan terjadi di sekolah atas nama pembinaan??

5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan. ini sangat perlu dan harus!

6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatan mutu dan martabat profesinya. keknya harus nanya komunitas open source nih

7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial. kalo bukan guru yang mikirin guru lantas siapa lagi yang mau mikirin nasib guru

8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. kalo sekarang sich dah banyak kayaknya ngak hanya PGRI.

9. Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan. kalo ngak mau opsinya harus nyebrang ke negri jiran … hehehehe

Kalo kode etik diatas dilanggar kira-kira sangsi apa ya yang didapatkan??? dicap mal praktekkah ??? kalo gitu kayaknya masih banyak yang mal praktek dech ….

Posted by Chandra at 03:12:38 | Permalink | No Comments »

Saturday, October 6, 2007

Profil Ariawan Chandra

Profile

Lahir dengan Nama asli “Fransiskus Ariawan Chandra” pada 6 Oktober 1985 jam 3 pagi, di Jogja, saya biasa disapa dengan panggilan “Chandra” saat ini saya masih berstatus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta angkatan 2003 dan mengambil fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. Karena berbagai alasan, mungkin teman2 menganggap saya tergolong agak malas kuliah. Whatever they say, yang penting saya konsisten pada orang tua akan selesai kuliah tepat waktu. Ya mungkin karena kegiatan di luar kampus juga banyak. Selain kuliah, saya juga aktif di beberapa bidang seperti menulis di media, mengajar gitar elektrik pada salah satu tempat kursus musik, guide, dll.

Saya mengawali pendidikan di TK, SD & SMP St. PIUS Pemalang lanjut ke SMU N 1 Pemalang. Bisa dibilang saya anak yang pendiam pada saat itu. Entah kenapa sejak saya migrasi ke Jogjakarta, saya mengalami perubahan sifat yang signifikan. Saya menyukai dunia cyber karena bisa melakukan berbagai macam hal yang saya sukai di situ. Saya juga suka musik, karena musik adalah bahasa yang universal, kamu bisa dibuat nangis tanpa harus berkata-kata, ngga percaya? dengerin aja instrumental “ritoru no ichi no namida” (main theme-nya 1 litre of tear). Untuk musik, saya menyukai musik yg bisa nyentuh hati saya, apapun jenis alirannya (ngga masuk chart juga ngga apa apa).

Saya orangnya fleksibel. Maksudnya; tergantung kondisi. Kalau pas saya sedang meeting dengan orang-orang golongan atas, saya bisa mengkondisikan diri sedemikian rupa sehingga terjalin “respect” antara saya dengan mereka. Pas saya gabung bareng komunitas musik yang sebagian saya ampu, saya mungkin hanya berkostum cassual + sandal jepit yang biasa saya pakai ke WC (maaf), dengan beragam kata-kata yang tak senonoh keluar dari mulut busuk saya. Sebenarnya saya (dulu) anak yang tempramental parah. Tapi sekarang kalau marah saya berusaha semaksimal mungkin untuk meredam, dengan orang yang menghina saya pun saya ngga akan pernah membalas (karrena saya biasa mencaci-maki orang di tulisan-tulisan saya).

Saya paling senang bersahabat. Ungkapan “boleh punya teman banyak, tapi sahabat cukup 1 saja” tidak berlaku buat saya. Kenapa? Sebagai orang ber-tempramen yang labil, saya merasa kesusahan untuk mengolah masalah-masalah yang saya hadapi. Disitulah Tuhan menurunkan malaikat-malaikatNya melalui sahabat-sahabat saya. Karena merekalah saya bisa hidup sampai sekarang. Kalau bukan karena mereka, mungkin saya sudah bunuh diri seperti orang-orang tolol yang sering saya lihat di berita TV yang menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan bunuh diri. Saya juga orang yang pas-pasan tapi nggak pernah punya pikiran tolol kaya mereka ( tai babi loe!) Lalu kemana orang tua saya? Masih sehat kok, tapi mereka kan di Pemalang, lha saya di Jogja. Jujur saya pernah terlibat tindakan buruk juga, baik di dunia nyata atau dunia cyber, tapi sekarang udah nggak lagi kok. Tobat..

Akhirnya sekian dulu, doain saya biar cepat selesai kuliah! (saya sedang skripsi, he..he..he..). Semoga semua yang ada di blog saya ini bermanfaat buat kalian. Saya sengaja nulis bidang pendidikan dan sosial, biar bisa diambil manfaatnya oleh semua golongan. GBU guys…

 

 

 

Ariawan Chandra

Posted by Chandra at 13:22:17 | Permalink | Comments (34)

Friday, October 5, 2007

Perjelas soal Sertifikasi

Perjelas soal Sertifikasi
(RUU Guru dan Dosen Tak Jamin Peningkatan Mutu Pembelajaran)

 

Jakarta, Kompas - Rencana kebijakan sertifikasi guru seperti yang tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Guru dan Dosen masih perlu diperjelas. Ini terutama terkait kompetensi yang akan disertifikasi. Di samping itu, sertifikasi jangan dipandang sebagai satu-satunya solusi peningkatan mutu guru. Jika lingkungan kerja guru tetap birokratis, maka sulit bagi guru untuk berkembang.

Dalam RUU Guru dan Dosen, guru wajib memenuhi kualifikasi pendidikan S1 atau minimal D4 dan memiliki sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi yang didapat melalui pendidikan profesi guru (36 satuan kredit semester). Pendidikan profesi berujung kepada uji kompetensi dan pengeluaran sertifikat pendidik. Sertifikasi itu berlaku untuk semua calon guru atau guru.

Iding Sirojudin, guru Fisika di SMA Negeri 78 Jakarta, Kamis (17/11), menyambut baik jika pemerintah dan DPR melalui RUU Guru dan Dosen menginginkan adanya sertifikasi untuk peningkatan mutu guru. Hanya saja, sertifikasi tersebut perlu diperjelas, antara lain terkait aspek apakah yang akan disertifikasi. Sebagai lulusan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta-Red), Iding mengatakan bahwa materi terkait dengan metode pembelajaran, teknologi pendidikan, psikologi massa, dan interaksi dengan murid di dalam kelas telah didapatkannya. Dia berharap, pendidikan profesi yang berujung pada sertifikat pendidik tersebut sesuai kebutuhan guru.

Hal senada diungkapkan Inting Chomsin, guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 19 Jakarta. Dia tak keberatan jika harus menempuh sertifikasi. Namun, dia juga mengingatkan aspek keadilan dalam sertifikasi tersebut, mengingat banyaknya jumlah guru di Tanah Air dan terbatasnya anggaran pemerintah.

Tokoh pendidikan Prof Dr Winarno Surakhmad menghargai keinginan untuk meningkatkan mutu guru. Sertifikasi setidaknya merupakan proses agar daya tawar guru lebih kuat. Namun, tambahnya, sertifikasi guru jangan dipandang sebagai satu-satunya jalan dan belum tentu menjamin peningkatan kualitas guru. Birokrasi hanya memikirkan agar guru dapat disertifikasi dan dipaksa menjadi baik. Tetapi, jika lingkungan kerja guru tidak mendukung penggunaan maksimal kompetensinya, maka sulit diharapkan perubahan, kata Winarno. Sebab, tambahnya, yang terpenting bagaimana membangun mental agar guru menyadari bahwa dia punya peran sangat besar. Terutama dalam memanusiakan manusia. Apakah itu juga dapat disertifikasi? katanya. (INE)

Posted by Chandra at 11:54:20 | Permalink | No Comments »

Filosofi Sertifikasi Guru

Filosofi Sertifikasi Guru

M. Abduhzen

Program sertifikasi dan pendidikan profesi guru sejauh ini belum menampakkan filosofi dan orientasi yang jelas. Akibatnya, perdebatan tentang sertifikasi guru dalam jabatan, guru lulusan lembaga pendidikan tenaga kependidikan alias LPTK dan Akta IV seperti tidak menemukan kepastian. Bahkan, pimpinan sejumlah LPTK mengaku pesimistik bahwa sertifikasi menjamin peningkatan kualitas guru (Kompas, 7 Februari 2007). Tanpa arah yang jelas dan tujuan terukur, niscaya kegiatan ini akan sia-sia.

Gagasan utama di balik pendidikan profesi guru adalah peningkatan mutu dan pembaruan pendidikan nasional. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru. Maka, program sertifikasi seharusnya tidak dipandang sekadar legalisasi untuk memperoleh tunjangan profesi, tetapi lebih sebagai upaya meningkatkan kompetensi melalui pendidikan profesi. Kompetensi guru diyakini tidak secara otomatis menjadi baik dengan menaikkan remunerasi saja. Oleh sebab itu, diperlukan upaya mengubah motivasi dan kinerja guru secara terencana, terarah, dan berkesinambungan dalam bentuk pendidikan profesi.

 

Guru sebagai profesi

Pendidikan profesi guru mengasumsikan bahwa model penyiapan tenaga kependidikan yang diandalkan selama ini sudah tidak memadai lagi sehingga memerlukan pembaruan. Program sertifikasi dan pendidikan profesi guru harus secara nyata menunjukkan langkah-langkah kemajuan dalam peran guru sebagai sebuah profesi. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah guru profesional macam apakah yang hendak “dicetak” lewat pendidikan profesi dengan 36-an SKS tersebut? Apakah guru-guru dipersiapkan untuk mengantar murid-murid lulus ujian nasional ataukah mereka dipersiapkan untuk mengembangkan potensi murid menjadi good citizen, dan insan paripurna? Di manakah perbedaan mereka dengan guru-guru yang ada sekarang atau dengan diri mereka sendiri sebelum memasuki “salon” profesionalisme itu?

Ketika persoalan ini tidak cukup terang, maka pendidikan profesi guru patut menimbulkan keraguan dan pesimisme karena tidak menawarkan sesuatu yang baru dan tangible kecuali selembar kertas bernama sertifikat. Pendidikan profesi guru harus mampu menjawab problem spesifik keguruan. Persoalan kronis keguruan kita, seperti dituturkan Beeby (1975), adalah “praktik kelas” yang membosankan. Guru-guru menerangkan pelajaran dengan latar belakang pengetahuan dan keterampilan metodik yang minimal, terbatas pada buku teks yang dimilikinya. Andalan lain mungkin sisa-sisa ingatannya dari apa yang pernah dipelajarinya dulu di sekolah.

Setelah menguraikan sesuatu masalah, mereka menghabiskan bagian terbesar jam pelajarannya untuk mendiktekan atau menuliskan apa yang diajarkannya di papan tulis dan menunggu murid menyalinnya. Catatan itulah yang dipelajari murid dan menjadi bahan ulangan. Sedikit sekali sekolah di Indonesia membantu menumbuhkan potensi seorang murid, dan pengaruh sekolah yang menjemukan serta tak imajinatif itu tetap terasa ketika seseorang menjadi dewasa dan memimpin masyarakatnya.

Pentingnya mempersoalkan penampilan dan kemampuan guru karena merekalah tokoh utama yang mengantar proses pencapaian hierarkis tujuan instruksional ke tujuan pendidikan nasional. Penampilan seorang guru di dalam praktik kelas ditentukan oleh konsep yang dimilikinya tentang pembelajaran. Pilihan metode bukan sekadar persoalan penyesuaian teknis terhadap topik yang akan disampaikan, melainkan berakar pada cara pandang terhadap manusia (anak) dan bagaimana cara mereka berkebudayaan. Apabila seorang guru memandang anak sebagai makhluk “kosong” dan berkembang secara mekanis, maka ia cenderung memilih mengajar dengan pendekatan pedagogis dengan metode menuang air ke dalam botol (banking system). Sebaliknya, jika anak dianggap sebagai ciptaan yang berpotensi dan berkembang dinamis, maka yang dipergunakan pendekatan andragogis dengan model pembelajaran dialogis. Tetapi, di Indonesia, kebanyakan guru tidak memiliki pandangan apa-apa tentang anak sehingga yang terjadi adalah “ritual” pembelajaran tanpa kerangka dan jiwa.

Dewasa ini, metodologi pembelajaran mengalami perkembangan sangat pesat. Kemajuan di dalam psikologi kognitif dan psikologi belajar yang ditopang oleh perkembangan teknologi informasi telah mendorong dipergunakannya konsep- konsep baru dalam model pembelajaran. Misalnya, perubahan konsep mengajar (teaching) menjadi pembelajaran (learning), perluasan definisi kecerdasan dari yang cenderung kognitif ditandai IQ (intelligence quotion) kini berkembang menjadi kecerdasan emosional (emotional quotion/ EQ) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotion/SQ), serta kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Di dalam model pembelajaran pun istilah-istilah baru bermunculan, seperti learning revolution, accelerated learning, quantum learning/teaching. Sayangnya, perkembangan ini belum menyentuh kelas-kelas sekolah kita. Maka, salah satu peran penting pendidikan profesi guru adalah menjembatani kesenjangan ini.

 

Guru yang dinamis

Pendidikan profesi guru harus dirancang berbeda dengan model pembelajaran di Akta IV, S1, dan S2 keguruan. Pendidikan profesi guru bukan menghasilkan saintis pendidikan dan keguruan, melainkan mendidik seseorang siap dan mahir menjalankan profesinya, seperti pendidikan kepaniteraan (coass) dokter yang siap menangani pasien setamat dari pendidikannya.

Sehubungan dengan waktu yang relatif singkat, maka kompetensi pedagogi, profesional, sosial, dan personal seperti tersebut di dalam UU Guru dan Dosen harus diterjemahkan secara obyektif-terukur dan disampaikan secara praktikal. Apabila guru yang ingin dihasilkan adalah guru dinamis yang dapat mengatasi problem klasik praktik kelas, beberapa usulan dapat dipertimbangkan dalam merancang kurikulum pendidikan profesi guru sebagai berikut.

Pertama, pada masa awal pendidikan diperlukan adanya semacam pelatihan penyadaran profesi yang bertujuan membangun paradigma baru dan ideologi pendidikan serta kebanggaan profesi. Pilihan profesi harus diberikan fondasi filosofis yang terhubung dengan eksistensi dan misi hidupnya. Korelasi ini akan melahirkan motivasi dan energi besar bagi guru dalam menjalankan tugasnya.

Kedua, pembelajaran di kelas disusun tidak berdasarkan pada subject matter (mata pelajaran), tetapi disusun per topik sesuai target sasaran yang diinginkan. Ini penting untuk menghindarkan pendekatan “sistematika-akademis” yang cenderung membahas banyak hal yang kurang signifikan.

Ketiga, pendekatan dan metode yang dipergunakan selama masa pendidikan profesi guru hendaknya merepresentasikan pembelajaran efektif dan partisipatif. Selama pendidikan, guru tidak hanya diperkenalkan pada berbagai metode, tapi sebanyak mungkin mengalami keterlibatan dalam penerapannya. Kegagalan dalam mengajarkan pendekatan dan metode-metode seperti ini sering disebabkan penyampaiannya dengan ceramah.

Keempat, pemagangan dan riset tindakan (action research) haruslah menjadi bagian terbesar dan terpenting dari aktivitas pendidikan profesi guru. Aktivitas ini adalah upaya memberikan keterampilan menemukan, menganalisis, dan memecahkan problem-problem praktik kelas.

Semua program sertifikasi dan pendidikan profesi guru harus dibingkai oleh filosofi mutu dan pembaruan pendidikan. Kurikulumnya harus terukur, menawarkan

Posted by Chandra at 11:45:46 | Permalink | No Comments »

Apa yang diajarkan Orang Kaya pada Anak-anak Mereka Tentang Uang Yang Tidak Diajarkan Orang Miskin dan Kelas Menengah

Apa yang diajarkan Orang Kaya pada Anak-anak Mereka Tentang Uang

YangTidak Diajarkan Oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah

 

“Alasan utama orang bersusah payah secara financial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tapi tidak belajar apapun mengenai uang. Hasilnya adalah, orang belajar bekerja untuk (mendapatkan) uang…tetapi tidak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka,” kata seorang teman bernama Robbert T. Kiyosaki. (Lahir dan besar di Hawaii, generasi keempat keturunan Amerika-Jepang).

Saya pernah membaca bukunya yang berjudul RICH DAD POOR DAD. Pelajaran yang dapat saya sharingkan kepada anda adalah bahwa anda semua telah diberi dua anugerah luar biasa: pikiran anda dan waktu anda. Terserah pada anda untuk melakukan apa yang anda senangi dengan keduanya. Dengan setiap rupiah yang masuk ke tangan anda, dan hanya anda sendiri yang mempunyai kekuatan untuk memutuskan nasib anda. Habiskanlah dengan bodoh, maka anda memilih untuk menjadi miskin. Habiskanlah untuk liabilitas, maka anda bergabung dengan kelas menengah. Investasikanlah dalam pikiran anda dan belajarlah bagaimana mendapatkan aset, dan anda akan memilih kekayaan sebagai tujuan dan masa depan anda. Pilihan itu ada di tangan anda dan hanya milik anda. Setiap hari dengan setiap rupiah, anda memutuskan untuk menjadi kaya, miskin atau kelas menengah.

Yang mau saya sampaikan adalah: apa yang ada di kepala itulah yang menentukan apa yang ada di tangan anda. Uang hanyalah gagasan. Ada referensi yang bagus juga, judulnya Think and Grow Rich. Judul itu bukan “Bekerja keras dan Menjadi Kaya”, namun “Belajarlah untuk Membuat Uang Bekerja untuk Anda”, saya yakin hidup anda akan lebih mudah dan lebih bahagia. Sekarang janganlah memainkan uang dengan aman, tetapi mainkanlah dengan pandai dan cerdas.

Buat para orang tua sekarang yang mungkin tidak bisa menyuruh putra-putrinya membaca. Saya turut prihatin. Mereka lebih senang menonton TV. Program anak-anak di TV menghalangi minat mereka untuk membaca. Intinya adalah; sekolah tidak mampu menyiapkan mereka menghadapi tantangan dunia yang kian besar. Tapi jangan kuatir, seorang teman bernama Sharon L. Lechter yang sebenarnya mengalami hal serupa dengan anda (hanya saja dia mungkin jauh lebih jenius dari pada anda hehehe). Adalah penemu “talking book” (buku yang berbicara) elektronik yang pertama dan membantu memperluas industri buku elektronik ke pasar internasional yang bernilai jutaan dolar sekarang ini. Dia tetap merupakan pioner dalam mengembangkan teknologi baru. Intinya (lagi) sistem pendidikan kita saat ini tidak mampu mengikuti laju perubahan global dan teknologi di dunia sekarang ini. Kita harus mengajar orang-orang muda kita keterampilan, baik pelajaran sekolah maupun finansial, yang akan mereka butuhkan tidak hanya untukbertahan hidup, tetapi untuk tumbuh dan maju lebih subur dalam dunia yang mereka hadapi.

 

Ariawan Chandra

Posted by Chandra at 11:36:01 | Permalink | No Comments »

Thank you so much

Ungkapan terimakasih untuk para inspirator saya di:

U S T

Hormat saya pada pace Ambrosius Atu (keep on strugle),

Ag. Heri Purnomo (makasih bro, tanpa kamu, saya akan lulus 20

tahun lagi), Paulus (keep on DJ), Etni (tau kan kalo sebenarnya aku ngga under estimate sama kamu), Elisabeth, Nita, Herdina (my sister), Chandra &

Siswati (Fucking PPL), Erri (pernah jadi tong sampahku juga), Nanang dan angkatan 2003 lainnya; don’t forget me!

Yang pernah jadi temen kost saya;

Hansen, Fadly, Feri, Yogi, Nur, iwan Bali, Nanang, Adam, Iwan

WATANABE MUSIC HEROES

beberapa personel yang care; Ivane & Dhany (trainer keyboard yg jadi tong sampahku, hidup emang perjuangan), Ara, Aya, Deri, Jordy (keyboard class // thanks waker’nya), Mas Djaloe, mas Ramdhan trainer drum yang ngajarin aku ngedrum gratis dan nyerita’in gimana rasanya hidup, semua murid2 drum (gokeel). rekan guitar trainer; Yuli & Mikael (nice picking), Beberapa guitar class sayaà Erika, Yuli (sekarang menggantikan posisi saya), Anto & Afdi di bass Extenssion, Bondo, Bandys, Budy (BBB), Pris sukses ya!. Mr. Vai & sir. Yngwie Malmsteen

Ayumi & Tomiko (nice song), Ryoko, Furi, Kai, Akita (Japan), Karren & Ferron (Aussie), Sharron & Lydia (Belgi).

All the teacher and kids at St. PIUS & SMU N 1

Orang-orang yang saya benci;Polantas dan sat pol PP yg sok! (kiss my black ass)

Last but not least: mam, dad, bro, sist, cous, unc & aunt yg udah menyokong kehidupan saya. I will pay then.

Posted by Chandra at 11:08:50 | Permalink | No Comments »

Pembelajar Cerdas Tanpa Batas

Ruang lingkup belajar enggak cuma ada di dalam kelas. Seluruh perjalanan hidup kita adalah sebuah proses belajar juga. Yang kita pahami selama ini belajar adalah sekolah, belajar adalah membaca, belajar adalah menghafal, dan belajar adalah meniru. Kita dianggap pintar setelah bisa melakukan semua itu dengan baik. Ranking kelas diidentikkan dengan kecerdasan seorang siswa. Padahal, hidup enggak pernah nanya-nanya soal ranking. Justru mereka yang memahami bagaimana harus hidup yang bakal jadi “juara” dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang ada di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita, yang kita enggak tahu. Kita banyak mempelajari karya orang lain, tapi kita sendiri cenderung lupa bahwa sebenarnya kita juga bisa berkarya. Kita sering takjub dengan kehebatan orang lain, tapi kita lupa bahwa kita bisa lebih hebat dari orang lain. Banyak hal yang kita lupa pelajari dari kehidupan kita sendiri. Padahal, salah satu kunci sukses adalah bagaimana mengenal diri sendiri.

Mengenal diri sendiri enggak sebatas tahu nama dan asal-usul nenek moyang, tapi kita juga perlu melihat kelebihan yang kita miliki dan belajar untuk memanfaatkannya. Dan ini adalah proses panjang. Seorang pembelajar enggak pernah berhenti mencari karena mereka menyimpan segudang pertanyaan, bahkan ketika sudah menemukan jawaban akan muncul pertanyaan baru dari jawaban tersebut, begitu seterusnya.

Banyak orang yang sadar akan bakat dan kelebihannya serta potensinya yang besar, but no action. So potensi itu cuma jadi “berlian dalam tanah”, enggak ada manfaatnya dan enggak seorang pun tahu kelebihannya. Ada orang yang “tahu banyak” tapi enggak “paham banyak”, ada orang yang “paham banyak” tapi enggak berbuat banyak, dan ada orang yang berbuat banyak hal tapi enggak menyelesaikan banyak hal. Yang perlu kita lakukan adalah mencari, menemukan, memahami, action, dan tuntaskan! Itulah proses pembelajaran.

Cerdas tanpa batas

Mungkin sebagian dari kita beranggapan, pembelajar adalah orang-orang yang memiliki kemampuan IQ (intelligence quotien) melebihi dari kebanyakan orang. Itu enggak sepenuhnya benar. Artinya, kalau kita termasuk orang yang memiliki IQ “jongkok” pun, kita enggak perlu minder. Tenang aja guys, masih banyak cara untuk bangkit!

Menurut Howard Gardner (1983) dalam bukunya, Frames of Mind, kita memiliki kecerdasan kompleks yang disebutnya sebagai multiple intelligences. Gardner juga mengatakan bahwa kesuksesan seseorang enggak cuma ditentukan oleh satu faktor kecerdasan. Ada beberapa jenis kecerdasan yang kita miliki, di antaranya kecerdasan berhitung dan berpikir logis (logika dan matematik), kecerdasan bermusik atau menikmati musik (musikal), kecerdasan dalam menjalin hubungan (interpersonal), kecerdasan memahami diri sendiri, termasuk memanfaatkan potensi-potensi yang kita miliki (intrapersonal), kecerdasan menggambar dan mengenali ruang (visual dan spaial), kecerdasan gerak (kinestetik), dan kecerdasan dalam mengenal keadaan dan kepekaan terhadap alam (natural). Masing-masing kecerdasan itu mewakili berbagai kemampuan kita yang keragamannya enggak bisa dijelaskan.

Enggak cuma itu, teori tentang kecerdasan juga terus berkembang, ada yang disebut dengan EQ (emotional quotient) yang dikembangkan oleh Daniel Goleman. EQ menggambarkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Bahkan, keberadaan EQ ini mulai dianggap penting hingga melebihi IQ.

Ada juga yang disebut dengan SQ (spiritual quotient), dicetuskan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, yaitu soal seberapa besar kesadaran kita tentang nilai-nilai ketuhanan dan alam semesta.

Jadi, kecerdasan kita bisa dibilang “enggak terbatas”. Setiap orang punya berbagai macam kecerdasan itu, tapi dengan bobot yang beda-beda. Ada yang lemah di satu sisi, tapi sangat kuat di sisi lain. Sebagai pembelajar yang selalu mencoba memahami apa pun, termasuk diri kita sendiri, tentu kita tahu kelebihan kita di sisi mana. Jadi, kita bisa memanfaatkan kelebihan kita buat merencanakan masa depan.

Yang dibutuhkan seorang pembelajar bukan cuma kemampuan intelektualnya, tapi lebih kepada kemampuan dan kemauannya dalam memanfaatkan serta mengeksplorasi berbagai macam potensi yang dimiliki. Itulah kenapa bisa ada orang yang enggak tamat sekolah atau bahkan enggak pernah sekolah bisa jadi penulis, pengusaha, seniman, penemu, pemrakarsa, serta pemimpin yang sukses. Semua karena mereka itu seorang pembelajar dan memiliki kecerdasan yang enggak dibatasi oleh formalitas pendidikan.

Kecerdasan enggak bisa diukur dengan membandingkan dengan kecerdasan orang lain seperti dalam sistem ranking. Kecerdasan diukur dari diri kita sendiri, seberapa besar potensi yang kita miliki dan seberapa besar out put yang kita hasilkan. Semakin mampu kita memanfaatkan potensi, kita semakin cerdas. Itu juga yang jadi salah satu ciri seorang pembelajar, yaitu “produktif”, bukan “konsumtif”.

Ariawan Chandra & Riyan Wahyudi

Posted by Chandra at 11:02:03 | Permalink | No Comments »

How to Study

Guys, kalo loe - loe pada Pengin Sukses belajar???

Nii gue kasih beberapa tips yang lumayan ces..pleng (manjur) buat kalian.

Eits, ini tips bukan sembarang tips ‘bro…

ni hasil call confference via internet bareng ma anak2 salah satu sekolah Elit di Jepang. Nah lo… Jepang ‘men… yaa sallam…

Pokoknya loe kudu simak baek2 ni… okey! Kalo loe bisa nerapin ni semua!

Loe bakal setara dengan anak2 sekolah di Jepang, gokil ngga tu!

 

  1. Seorang anak memberi saran belajar buat kalian, yang dia dapat dari ayahnya. Hari pertama sekolah, kamu ulang kembali pelajaran yang kamu dapat! Jangan nongkrong di mall dulu… abis itu baca singkat dua halaman materi berikutnya sebagai kerangka saja! Begitu pelajaran itu diterangkan guru esoknya, kamu sudah punya gambaran atau dasar, tinggal menambahkan saja yang belum kamu tahu. Jadi begitu pulang sekolah, kamu tinggal mengulang aja. Untuk mencari kesimpulan atau ringkasan.

 

  1. Usahakan selalu konsentrasi penuh sewaktu mendengarkan pelajaran, materi yang kamu dengar bakal mudah “dipanggil lagi” begitu kamu menghapal ulang pelajaran.

(biasanya tampang loe aja yg sok konsen, tapi pikiran loe ngga tau kemana)

  1. Seorang teman yang lain merekomendasikan untuk ngetik ulang catatan pelajaran ke komputer atau bukumu, logikanya kalau kamu mengetik ulang catatanmu, berarti kamu udah membaca ulang pelajaran yang baru kamu dapet di sekolah. Materi yang di ulang tadi bisa tersimpan di memori otak buat jangka waktu lama. Lebih bagus lagi kalau kamu mau membaca atau mempelajari kembali catatan tersebut setelah diketik, susah lupanya. Kalo loe bisa, otak loe ngga kalah dengan prosesor intel core 2 duo ajib… ya sallam……..

 

  1. Ada juga yang nyaranin; baca ulang catatan di sekolah tadi, trus buat kesimpulan dengan kata2 kamu sendiri. Bagus lagi kalau hasil kesimpulan kamu ditulis di secarik kertas seukuran kartu nama, kartu2 tersebut efektif untuk dibaca ulang saat waktu senggang. (tapi jangan buat nyontek!)

 

  1. Teman lainnya menyarankan untuk menggunakan buku catatan yang berebeda pada setiap mata pelajaran, intinya jangan mencampur aduk catatan pelajaran satu dengan yang lainnya. Cara ini dinilai lebih teratur untuk digunakan pada waktu akan mengulang pelajaran & mau ujian.

 

  1. Mengulang pelajaran ngga harus selamanya dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu bisa selalu ingat akan materi tersebut. Yakin jek, kamu bakal bisa lebih paham akan materi tersebut.

 

  1. Belajar mendadak menjelang tes sangat tidak efektif. Paling nggak kamu butuh 1 bulan buat mengulang seluruh materi. Materi terlalu banyak sebenarnya nggak masalah, buat aja ringkasan dan kesimpulan materi! misalnya seperti yang ada pada point 4, atau kamu bisa buat poster lalu tempel di dinding kamarmu. (………………………………………………..gokil…)

 

  1. Beberapa temen dari Australia yang tiba2 nyambung ke call conference kami malah nyaranin Kalo misal badan kamu capek, bakal susah buat konsen-nya, ya ngga?! Makanya sediain waktu buat olahraga juga! Ngga perlu lama2 apalagi ngotot2,, nyantai aja asal rutin. Toh kita bukan sedang mengarah untuk menjadi atlit.

 

  1. Belajar sambil ndengerin musik??? Pendapat yang masih simpang siur ya…. Tapi kenapa ngga dicoba aja? kalo kamu bisa, do it!

 

  1. Ngga usah belajar sampai begadang, siang hari sebenarnya malah lebih bagus, soalnya badan masih fit. malam kita tinggal ulang aja yang ringan2. sambil nonton, sambil berduaan, sambil dengerin musik, ngemil, tiduran,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

…….zZzz……zz…krog…zzz…krog….zzz…krog…zZzz……zzz…krog…zzz…krog….zzz…krog… muke gile….tidur loe?….

 

 

Ariawan Chandra & Riyan Wahyudi

Posted by Chandra at 10:53:23 | Permalink | No Comments »